Awalnya, Raga dan Hana sebenarnya tidak terlalu saling mengenal.
Mereka hanya berada di lingkungan kampus yang sama. Saling tahu wajah mungkin iya, tetapi untuk sekadar ngobrol pun belum pernah.
Hana justru lebih dulu menyadari keberadaan Raga.
Bukan sesuatu yang serius. Raga hanya salah satu orang yang cukup sering terlihat di kampus karena kesibukannya di organisasi. Apalagi dengan banyaknya teman yang selalu ada di sekitarnya, rasanya sulit untuk tidak mengenali sosoknya.
Hana hanya memperhatikan.
Tidak pernah benar-benar mencari.
Sementara Raga?
Jangankan memperhatikan Hana, mungkin saat itu ia bahkan belum benar-benar tahu siapa Hana.
Sampai Dimas mulai ikut campur.
Dimas memang punya kebiasaan menggodai orang. Dan entah kenapa, Hana cukup sering menjadi bahan ledekannya.
Kalau melihat Hana lewat, Dimas bisa saja langsung nyeletuk.
“Han!”
Hana menoleh.
“Apa?”
Dimas hanya tersenyum.
“Nggak apa-apa.”
Hana mengernyit.
“Apaan, sih?”
Dimas tertawa.
Raga yang ada di dekatnya awalnya tidak peduli. Tapi karena kejadian seperti itu terjadi beberapa kali, lama-lama ia mulai penasaran.
“Dim, lu kenal Hana?”
Dimas menoleh.
“Kenal lah.”
“Siapa?”
Dimas langsung memasang wajah jahil.
“Loh, lu baru tahu?”
Raga mengernyit.
“Emang kenapa?”
“Enggak. Kirain lu udah tahu.”
Raga tidak menjawab.
Ia hanya melihat ke arah Hana yang sudah berjalan menjauh.
Jadi itu Hana.
Untuk pertama kalinya, Raga mulai benar-benar mengingat nama itu.
Bukan karena sesuatu yang besar.
Hanya karena Dimas terlalu sering menyebutnya.
Dan semakin sering Dimas menggoda Hana, semakin Raga sadar kalau ternyata mereka memang sering berada di tempat yang sama.
Tapi tetap saja, belum ada alasan untuk benar-benar berkenalan.
Sampai sebuah acara kampus mempertemukan mereka dalam situasi yang sedikit berbeda.
Hari itu Raga menjadi bagian dari tim kesehatan.
Tugasnya sederhana. Berjaga selama acara berlangsung dan membantu kalau ada peserta yang membutuhkan pertolongan.
Acara cukup ramai.
Raga sibuk dengan tugasnya, sementara mahasiswa lain menikmati kegiatan.
Di tengah keramaian itu, Hana juga ada di sana.
Kali ini Raga tidak hanya melihatnya sekilas.
Ia tahu siapa yang sedang dilihatnya.
Hana.
Mungkin bagi Hana, kejadian itu tidak terlalu berarti.
Begitu juga bagi Raga.
Mereka tetap tidak langsung menjadi dekat.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba membuat keduanya saling menyukai.
Hanya saja, sejak saat itu Raga mulai lebih sadar kalau ada seseorang bernama Hana Keira Anindya di sekitarnya.
Dan Hana sendiri sebenarnya sudah lebih dulu menyadari keberadaan Raga.
Lucunya, mereka sama-sama tahu satu sama lain, tetapi tetap belum benar-benar mengenal.
Seperti dua orang yang sudah beberapa kali berada di ruangan yang sama, tetapi belum pernah punya alasan untuk duduk di meja yang sama.
Untuk sekarang, itu sudah cukup.
Raga punya kesibukannya.
Hana punya urusannya sendiri.
Mereka masih berjalan di jalur masing-masing.
Hanya saja, tanpa disadari keduanya, mulai ada satu nama yang perlahan masuk ke dalam perhatian.
Hana.
Dan satu nama yang sejak awal sudah lebih dulu diperhatikan. Raga.