BAB 5 KOPIMATCHA – PAHIT

BAB 5 — PAHIT

Ada satu titik ketika menyimpan perasaan sendiri mulai terasa melelahkan.

Hana sampai di titik itu setelah terlalu lama berpura-pura biasa saja.

Hari itu ia akhirnya cerita kepada Icha.

Tidak langsung.

Awalnya hanya ngobrol biasa. Tentang kuliah, pekerjaan, hal-hal kecil yang terjadi beberapa hari terakhir.

Sampai akhirnya Icha menyadari kalau ada sesuatu yang berbeda.

“Han.”

“Hm?”

“Lu kenapa?”

Hana menggeleng.

“Enggak kenapa-kenapa.”

Icha menatapnya beberapa detik.

“Bohong.”

Hana diam.

Ia memainkan sesuatu di tangannya, lalu menghela napas.

“Cha…”

“Iya?”

“Menurut lu kalau kita suka sama orang yang udah punya pacar, itu gimana?”

Icha tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Hana.

“Raga?”

Hana langsung melihat ke arahnya.

“Gue belum nyebut nama.”

“Enggak perlu.”

Hana terdiam.

Akhirnya ia tertawa kecil, meskipun tidak benar-benar lucu.

“Kelihatan banget, ya?”

“Banget.”

Hana menunduk.

Untuk beberapa saat ia tidak mengatakan apa-apa.

Lalu semuanya keluar.

Tentang Raga.

Tentang bagaimana awalnya ia hanya memperhatikan.

Tentang poster expo.

Tentang percakapan-percakapan kecil mereka.

Tentang perhatian Raga yang sebenarnya mungkin tidak pernah dimaksudkan sebagai sesuatu yang lebih.

Tentang story yang sering ia lihat.

Tentang pacar Raga.

Tentang rasa tidak nyaman yang selama ini ia simpan sendiri.

Dan tentang hal-hal kecil yang justru membuatnya semakin bingung.

Raga memang baik kepadanya.

Kadang ketika mereka sedang bersama teman-teman, Raga suka mentraktir makan.

Kadang menawarkan bantuan.

Kadang perhatian pada hal-hal kecil.

Tidak berlebihan.

Tidak juga terlalu istimewa.

Tapi cukup untuk membuat Hana bertanya-tanya.

Apakah Raga memang seperti itu kepada semua orang?

Atau hanya kepadanya?

Dan semakin lama, pertanyaan itu semakin sulit dijawab.

Icha mendengarkan sampai Hana selesai.

Tidak langsung menghakimi.

Tidak juga mengatakan bahwa perasaan Hana salah.

Setelah beberapa saat, Icha akhirnya berkata,

“Han, gue ngerti kenapa lu bisa suka sama dia.”

Hana diam.

“Tapi Raga udah punya pacar.”

“Iya.”

“Dan dari yang lu ceritain, gue juga nggak yakin dia punya perasaan yang sama.”

Hana menelan ludah.

Kalimat itu sebenarnya sudah ia pikirkan sendiri.

Tapi mendengarnya dari orang lain terasa berbeda.

Lebih nyata.

“Jadi gue harus gimana?”

Icha menghela napas.

“Menjauh.”

Hana menatapnya.

“Segitunya?”

“Bukan karena Raga orang jahat.”

Icha berhenti sebentar.

“Justru karena dia baik.”

Hana terdiam.

“Kalau dia jahat, mungkin lebih gampang buat lu berhenti suka. Tapi dia baik. Dia perhatian. Kadang traktir lu makan. Sering bantu. Tapi semua itu belum tentu berarti dia suka sama lu.”

Hana menunduk.

Ia tahu.

Itulah yang paling menyebalkan.

Raga tidak pernah memberinya harapan secara langsung.

Tapi Raga juga tidak pernah membuat Hana merasa tidak dianggap.

Perhatian-perhatian kecil itu datang begitu saja.

Dan Hana yang memberi arti lebih pada semuanya.

“Gue cuma takut gue yang terlalu berharap,” kata Hana pelan.

Icha mengangguk.

“Mungkin memang begitu.”

Hana tersenyum tipis.

Pahit.

Bukan karena Icha salah.

Justru karena Icha mungkin benar.

“Kalau gue terus dekat sama dia,” lanjut Icha, “lu bakal makin susah berhenti.”

Hana tidak menjawab.

Ia tahu itu.

Selama masih sering melihat Raga, berbicara dengannya, menerima perhatian kecilnya, dan diam-diam berharap ada sesuatu yang lebih…

perasaannya tidak akan selesai.

Akhirnya Hana mengangguk.

“Ya udah.”

Icha menatapnya.

“Serius?”

Hana menarik napas panjang.

“Gue coba.”

Mungkin itu keputusan paling masuk akal yang bisa ia ambil.

Bukan menjauhi karena marah.

Bukan karena membenci Raga.

Hanya karena Hana perlu menyelamatkan dirinya sendiri.

Sejak saat itu, ia mulai mengurangi banyak hal.

Tidak lagi mencari kesempatan untuk berbicara dengan Raga.

Tidak lagi terlalu memperhatikan keberadaannya.

Kalau Raga mengajak bicara, Hana tetap menjawab.

Kalau Raga menawarkan sesuatu, Hana tetap berterima kasih.

Tapi ia mulai memberi jarak.

Dan yang paling sulit justru bukan menjauh dari Raga.

Melainkan menjauh dari kebiasaan memperhatikannya.

Tidak melihat story.

Tidak menunggu pesan.

Tidak bertanya-tanya sedang apa.

Tidak mencari tahu apakah Raga datang ke kampus atau tidak.

Pelan-pelan Hana mencoba mengembalikan semuanya seperti sebelum ia mengenal Raga.

Kembali fokus pada dirinya sendiri.

Kembali pada karier.

Kembali pada kehidupannya.

Tapi ternyata ada satu masalah.

Setelah seseorang menjadi bagian dari kebiasaan kita, menghilangkannya tidak semudah memutuskan untuk pergi.

Hana tetap melihat kursi kosong yang biasanya ditempati Raga.

Tetap mendengar namanya ketika teman-teman membicarakan organisasi.

Tetap teringat pada hal-hal kecil yang pernah mereka lakukan bersama.

Termasuk sebuah poster expo.

Sebuah karakter yang diberi nama bersama.

Beberapa obrolan sederhana.

Beberapa kali ditraktir makan.

Hal-hal kecil yang seharusnya tidak berarti banyak.

Tapi justru karena kecil, semuanya terasa sulit dilupakan.

Sementara itu, Raga tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.

Ia hanya merasa Hana belakangan ini sedikit berbeda.

Lebih jarang mengobrol.

Lebih sering sibuk sendiri.

Dan kadang, ketika Raga mengajak bicara, jawabannya terasa lebih singkat dari biasanya.

Tapi Raga tidak terlalu memikirkannya.

Mungkin Hana sedang sibuk.

Mungkin sedang banyak pekerjaan.

Atau mungkin hanya sedang tidak mood.

Raga tidak tahu.

Dan Hana juga tidak pernah menjelaskan.

Begitulah mereka.

Satu orang sedang berusaha melepaskan.

Satu orang lainnya bahkan tidak tahu bahwa ada sesuatu yang harus dilepaskan.

Dan di antara keduanya, perasaan Hana menjadi semakin sunyi.

Tidak pernah benar-benar dimulai.

Tidak pernah benar-benar diucapkan.

Tapi cukup nyata untuk membuatnya sakit.

Pahit.

gemar berbagi info, fakta dan motivasi.

Artikel lainnya
BAB 7 KOPIMATCHA – APA AKHIRNYA?

BAB 7 KOPIMATCHA – APA AKHIRNYA?

BAB 6 KOPIMATCHA – MANIS

BAB 6 KOPIMATCHA – MANIS