Hana memang sulit ditebak.
Kadang ia bisa begitu dekat dengan seseorang, lalu tiba-tiba kembali sibuk dengan dunianya sendiri.
Dan kali ini, Raga mulai merasa ada yang berbeda.
Hana menjauh.
Tidak benar-benar menghilang. Kalau bertemu, ia masih menyapa. Kalau diajak bicara, masih menjawab. Tapi obrolan mereka tidak lagi seperti dulu. Tidak ada lagi candaan kecil, perdebatan sepele, atau komentar Hana yang biasanya selalu berhasil membuat Raga tersenyum.
Awalnya Raga mengira Hana sedang sibuk.
Tapi semakin lama, ia justru mulai menyadari bahwa dirinya mencari keberadaan Hana.
Saat rapat, matanya tanpa sadar melihat ke tempat Hana biasanya duduk.
Saat menemukan sesuatu yang lucu, ia sempat ingin mengirimkannya kepada Hana.
Bahkan ketika sedang makan bersama teman-temannya, ia teringat kebiasaannya mentraktir Hana.
Hal-hal kecil.
Tapi cukup sering muncul sampai Raga sendiri merasa aneh.
“Kenapa sih gue?”
Dimas yang duduk di sebelahnya menoleh.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Lu kenapa belakangan ini? Bengong terus.”
Raga hanya menggeleng.
Ia sendiri tidak tahu.
Organisasi masih berjalan. Teman-temannya masih ada. Kegiatannya juga sama.
Tapi entah kenapa, semuanya terasa sedikit berbeda.
Sampai akhirnya Raga menyadari bahwa mungkin yang membuatnya tidak nyaman bukan karena pekerjaan, organisasi, atau kampus.
Tapi karena Hana.
Ia sudah terbiasa dengan keberadaan Hana.
Dengan cara Hana berbicara yang to the point, komentarnya yang jujur, perdebatan kecil mereka, bahkan sikap moody-nya.
Dulu semua itu terasa biasa.
Sekarang, ketika semuanya berkurang, Raga baru sadar kalau ia ternyata merindukannya.
Dan yang lebih membuatnya bingung, perasaan itu bukan lagi sekadar rasa penasaran.
Ia suka ketika Hana ada di dekatnya.
Ia suka berbicara dengannya.
Dan ia tidak suka ketika Hana mulai menjauh.
Tapi Raga juga tahu situasinya tidak sederhana.
Ia masih punya pacar.
Dan ia takut kalau mengakui perasaannya kepada Hana, semuanya justru berubah.
Pertemanan mereka mungkin menjadi canggung.
Kedekatan yang selama ini ada bisa hilang.
Karena itu, Raga memilih diam.
Sementara Hana sudah lebih dulu melakukan hal yang sama dengan caranya sendiri.
Hana memilih menjauh.
Raga memilih bertahan dalam diam.
Mereka sebenarnya berada di tempat yang hampir sama.
Sama-sama punya rasa.
Sama-sama takut.
Hanya saja, belum ada yang tahu bahwa perasaan itu ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Beberapa waktu kemudian, mereka kembali berada dalam ruangan UKS Kampus.
Raga masih menjadi bagian dari tim kesehatan.
Hana datang menghampirinya.
“Ga.”
Raga menoleh.
“Kenapa?”
“Bisa cekin gue?”
Raga langsung memperhatikan wajah Hana.
“Kenapa? Pusing?”
“Enggak.”
“Terus?”
Hana menarik napas.
“Nadi gue akhir-akhir ini sering cepat.”
Raga sedikit mengernyit.
“Serius?”
“Iya.”
“Dari kapan?”
“Belakangan.”
Raga mengambil alat yang diperlukan.
“Duduk.”
Hana menurut.
Raga mulai memeriksa tekanan darahnya.
Hana berusaha terlihat biasa saja.
Padahal justru di saat seperti itu, jantungnya terasa semakin tidak mau diajak bekerja sama.
Ia tidak tahu apakah yang membuat nadinya cepat adalah sesuatu yang benar-benar terjadi pada tubuhnya…
atau karena orang yang sedang berdiri di depannya.
Raga meminta tangannya.
“Mana tangannya?”
Hana mengulurkan tangan.
Raga menggenggam pergelangan tangannya untuk memeriksa denyut nadi.
Dan untuk beberapa detik, keduanya diam.
Tangan mereka akhirnya benar-benar bersentuhan.
Bukan seperti ketika berjabat tangan.
Bukan juga sentuhan tidak sengaja.
Kali ini Raga memegang tangan Hana dengan sengaja karena sedang memeriksa nadinya.
Tapi entah kenapa, tidak satu pun dari mereka ingin buru-buru melepaskannya.
Hana menatap ke arah lain.
Raga tetap fokus pada pemeriksaan.
Atau setidaknya berusaha terlihat fokus.
“Cepat, ya?”
Hana bertanya pelan.
Raga melihat tangannya.
Kemudian menatap Hana.
“Iya.”
“Kenapa?”
Raga terdiam sebentar.
“Gue nggak tahu.”
Hana hampir tersenyum.
Ternyata bukan cuma dirinya yang merasa aneh.
Beberapa detik berlalu.
Raga masih memegang tangannya.
Hana juga tidak menariknya.
Untuk pertama kalinya, tidak ada perdebatan tentang kopi atau matcha.
Tidak ada perbedaan pendapat.
Tidak ada sindiran.
Tidak ada alasan untuk saling menjauh.
Hanya dua orang yang sama-sama diam.
Dan untuk sesaat, Hana lupa bahwa beberapa waktu lalu ia berusaha menjauh dari Raga.
Sementara Raga lupa bahwa ia seharusnya menjaga jarak.
Tangan mereka masih berpegangan.
Erat.
Terlalu lama untuk sekadar sebuah pemeriksaan.
Tapi tidak ada yang mengeluh.
Tidak ada yang mengatakan,
“Lepas.”
Malah ada bagian kecil dalam diri mereka yang berharap waktu berjalan sedikit lebih lambat.
Hana akhirnya bertanya,
“Normal?”
Raga tersenyum tipis.
“Kayaknya.”
“Kayaknya?”
“Iya.”
Hana menatapnya.
“Dokter macam apa lu?”
Raga tertawa kecil.
“Gue bukan dokter.”
“Terus sok tahu.”
“Kan lu yang minta dicek.”
Hana ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu, suasana di antara mereka kembali terasa seperti dulu.
Hanya saja, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang belum mereka bicarakan, tapi sama-sama mulai mereka rasakan.
Hana tahu ia tidak sendirian.
Raga pun mulai mengerti kenapa kehilangan Hana terasa begitu nyata.
Di balik semua perbedaan mereka, ternyata ada satu rasa yang sama.
Manis.

Beberapa hari kemudian ada event donor darah.
Raga ikut menjadi panitia. Selain membantu di bagian kesehatan, ia juga kebagian urusan humas. Hampir sepanjang acara, tangannya tidak pernah jauh dari kamera.
Memotret kegiatan.
Mengambil dokumentasi peserta.
Sesekali membuat konten untuk media sosial acara.
Sementara Hana datang sebagai peserta.
Ini pertama kalinya ia donor darah.
Dan ternyata, keberanian Hana tidak sebesar yang ia bayangkan.
“Ga…”
Raga yang sedang memegang kamera menoleh.
“Hm?”
“Gue baru pertama kali.”
Raga langsung paham.
“Takut?”
“Sedikit.”
“Sedikit?”
Hana mengangguk.
“Ya… sedikit banyak.”
Raga tertawa.
“Tenang. Aman.”
Hana duduk di kursi donor.
Tangannya terlihat sedikit tegang.
Raga yang berdiri tidak jauh darinya kemudian mengambil sebotol air dan menyerahkannya.
“Nih. Minum dulu.”
Hana menerimanya.
“Thanks.”
“Jangan lihat jarumnya.”
“Emang gue mau lihat?”
“Ya siapa tahu penasaran.”
“Gue nggak segila itu.”
Raga tertawa kecil.
Entah kenapa, sejak Raga berada di dekatnya, rasa gugup Hana perlahan berkurang.
Mungkin karena Raga terus mengajaknya bicara.
Mungkin karena ia tahu ada seseorang yang bisa dimintai bantuan kalau terjadi sesuatu.
Atau mungkin karena orang itu memang Raga.
Beberapa saat kemudian, proses donor dimulai.
Hana sempat meringis ketika jarum mulai masuk.
Raga yang kebetulan berada di dekatnya langsung berkata,
“Udah, jangan tegang.”
“Gampang ngomong.”
“Ya kan gue nggak yang donor.”
“Nah.”
Raga tertawa.
“Lu mau gue temenin sampai selesai?”
Hana menoleh.
“Memangnya lu nggak sibuk?”
“Bisa sambil dokumentasi.”
Raga mengangkat kameranya.
“Lagipula gue bagian humas.”
Hana menggeleng sambil tersenyum.
“Alasan.”
Raga tidak menjawab.
Ia hanya mengambil beberapa foto kegiatan.
Termasuk satu-dua foto Hana.
Hana yang sadar langsung menatap kamera.
“Eh, jangan difoto.”
“Kenapa?”
“Jelek.”
“Enggak.”
Raga menjawab terlalu cepat.
Hana terdiam sebentar.
Raga baru sadar apa yang baru saja ia katakan.
“Ya… maksudnya fotonya.”
Hana menahan senyum.
“Iya, iya.”
Raga kembali pura-pura sibuk dengan kameranya.
Tapi sesekali ia tetap melihat ke arah Hana.
Memastikan semuanya baik-baik saja.
Ketika donor selesai, Hana terlihat sedikit lemas.
Raga kembali datang membawa air.
“Minum.”
Hana menerimanya.
“Lu dari tadi ngasih gue air terus.”
“Biar nggak pingsan.”
“Gue nggak bakal pingsan.”
“Bagus.”
“Kalau gue pingsan?”
Raga menatapnya sebentar.
“Ya gue tangkap.”
“Pede banget.”
“Namanya juga panitia.”
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk berdampingan.
Tidak ada obrolan yang terlalu penting.
Tidak ada pembicaraan tentang perasaan.
Hanya percakapan kecil yang sebenarnya biasa.
Tapi justru hal-hal sederhana seperti itu yang membuat Hana kembali merasa nyaman.
Seolah jarak yang beberapa waktu terakhir ia buat perlahan menghilang.