BAB 7 KOPIMATCHA – APA AKHIRNYA?

BAB 7 — APA AKHIRNYA?

Setelah hari itu, sesuatu berubah.

Tidak terlalu besar.

Tidak sampai membuat orang-orang di sekitar mereka langsung menyadarinya.

Tapi Raga dan Hana tahu.

Ada sesuatu yang berbeda.

Mereka tidak lagi terlalu sibuk mencari alasan untuk menjauh.

Sebaliknya, mereka mulai menemukan alasan untuk saling mendekat.

Raga mulai punya banyak alasan untuk mentraktir Hana.

Kadang setelah rapat.

Kadang setelah kegiatan.

Kadang hanya karena kebetulan sedang membeli makanan.

“Han, makan.”

Hana melihat makanan yang diberikan Raga.

“Buat gue?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Raga mengangkat bahu.

“Lebih.”

“Lebih apanya?”

“Pesan kebanyakan.”

Hana tahu alasan itu terdengar sangat dibuat-buat.

Tapi ia tetap menerimanya.

“Terima kasih.”

Raga hanya mengangguk.

Begitu juga Hana.

Ia mulai punya banyak cara untuk menemui Raga.

Kadang benar-benar ada alasan.

Kadang tidak.

Salah satunya adalah kesehatan.

“Ga.”

Raga menoleh.

“Apa?”

“Cek kesehatan gue.”

Raga tertawa.

“Lagi?”

“Iya.”

“Lu kenapa sering banget?”

“Biar sehat.”

“Alasan.”

Hana tersenyum.

“Ya sudah, nggak jadi.”

“Udah sini.”

Hana langsung duduk.

Raga mulai memeriksa.

Dan anehnya, hal yang awalnya hanya menjadi alasan sederhana perlahan berubah menjadi kebiasaan kecil yang mereka berdua nikmati.

Hana datang.

Raga memeriksa.

Mereka berbicara.

Kadang berdebat.

Kadang tertawa.

Kadang hanya duduk tanpa banyak bicara.

Tidak ada yang bertanya sebenarnya mereka ini apa.

Mungkin karena keduanya sudah tahu.

Atau setidaknya mulai tahu.

Raga masih suka matcha.

Hana masih suka kopi.

Mereka masih sering berbeda pendapat.

Masih bisa berdebat hanya karena hal-hal kecil.

Tapi sekarang mereka mulai memahami satu hal.

Tidak semua perbedaan harus diselesaikan.

Tidak semua perbedaan harus membuat seseorang pergi.

Kadang kita hanya perlu menerima bahwa orang yang kita sukai memang tidak harus menyukai semua hal yang kita sukai.

Hana tidak harus menyukai matcha.

Raga tidak harus menyukai kopi.

Dan mereka tidak harus selalu memiliki pendapat yang sama.

Karena mungkin yang membuat sebuah hubungan terasa nyaman bukan karena dua orang memiliki kesukaan yang sama.

Tapi karena mereka tetap mau duduk di meja yang sama meskipun pesanannya berbeda.

Kopi untuk Hana.

Matcha untuk Raga.

Dua rasa yang berbeda.

Tapi bisa dinikmati di tempat yang sama.

 

Bulan Agustus datang.

Dan bagi Hana, bulan itu memiliki satu hari yang cukup spesial.

Hari ulang tahunnya.

Hana sebenarnya tidak terlalu berharap banyak.

Ia bukan tipe orang yang suka membuat ulang tahunnya menjadi sesuatu yang besar.

Ucapan dari teman-teman sudah cukup.

Tidak perlu pesta.

Tidak perlu hadiah mahal.

Tidak perlu sesuatu yang berlebihan.

Tapi ada satu hal yang tidak pernah Hana bayangkan.

Raga mengingatnya.

Hari itu, Hana mendapat ucapan ulang tahun dari beberapa orang.

Pesan masuk satu per satu.

Sampai akhirnya ada satu pesan dari Raga.

Selamat ulang tahun, Han.

Sederhana.

Tapi Hana tersenyum ketika membacanya.

Tidak lama kemudian, Raga datang membawa sesuatu.

“Ini.”

Hana melihat benda yang diberikan kepadanya.

“Kado?”

Raga mengangguk.

“Buat gue?”

“Ya masa buat orang lain.”

Hana tertawa kecil.

Ia menerimanya dengan kedua tangan.

“Kenapa kasih?”

“Ulang tahun lu.”

“Gue tahu.”

“Ya sudah.”

Hana menatap Raga beberapa saat.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Mungkin karena selama ini Hana tidak pernah benar-benar mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang laki-laki yang begitu berarti baginya.

Raga menjadi laki-laki pertama dalam hidup Hana yang mengucapkan ulang tahun kepadanya dengan cara yang membuatnya merasa benar-benar diingat.

Dan bukan hanya ucapan.

Ada sesuatu yang bisa ia pegang.

Sebuah hadiah kecil.

Tidak harus mahal.

Tidak harus mewah.

Tapi menjadi spesial karena datang dari orang yang tepat.

“Terima kasih, Ga.”

Raga tersenyum.

“Semoga suka.”

Hana mengangguk.

“Suka.”

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling melihat.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Tapi mungkin memang tidak perlu.

Ada beberapa hal yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan.

Kalau dipikir-pikir, mungkin cerita mereka memang tidak pernah benar-benar masuk akal.

Hana suka kopi, Raga suka matcha.

Hana sedikit gugup, Raga mudah bergaul.

Hana to the point, Raga terlalu santai.

Mereka berbeda dalam banyak hal.

Tapi sekarang, perbedaan itu tidak lagi terasa seperti masalah.

Hana belajar menerima bahwa Raga mungkin akan tetap menyukai hal-hal yang tidak ia sukai. Begitu juga Raga yang mulai memahami bahwa Hana tidak harus selalu berpikir seperti dirinya.

Mereka tidak harus menjadi sama.

Tidak harus sempurna.

Tidak harus selalu sepakat.

Karena menyukai seseorang bukan berarti menyukai semua hal tentangnya. Kadang, kita justru menyukai seseorang karena masih ada banyak hal tentang dirinya yang ingin kita kenal lebih jauh.

Lalu, apa akhirnya?

Tidak ada yang tahu.

Mungkin suatu hari Raga akan mengatakan apa yang selama ini ia simpan. Mungkin Hana yang lebih dulu membuka perasaannya. Mungkin mereka akan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar dua orang yang saling perhatian.

Atau mungkin tidak.

Yang jelas, mereka adalah dua orang yang awalnya merasa tidak cocok. Dua orang yang bahkan berbeda soal minuman.

Satu memilih kopi.

Satu memilih matcha.

Tapi mereka belajar bahwa perbedaan bukan selalu alasan untuk pergi. Kadang, perbedaan justru menjadi alasan untuk tinggal lebih lama.

Karena kopi tidak harus berubah menjadi matcha.

Matcha tidak harus berubah menjadi kopi.

Mereka cukup menjadi diri mereka sendiri.

 

Dan kalau memang ada satu meja yang bisa mempertemukan keduanya, kenapa harus memilih salah satu?

Biarkan Hana dengan kopinya.

Biarkan Raga dengan matchanya.

Dan biarkan waktu yang menentukan ke mana cerita ini akan berjalan.

Karena untuk kisah mereka, akhirnya masih berada di tangan mereka.

Hana.

dan Raga.

 

Selamat ulang tahun, Hana. 🤎

KopiMatcha — 16 Agustus 2026 | 16.00 WIB

gemar berbagi info, fakta dan motivasi.

Artikel lainnya
BAB 6 KOPIMATCHA – MANIS

BAB 6 KOPIMATCHA – MANIS

BAB 5 KOPIMATCHA – PAHIT

BAB 5 KOPIMATCHA – PAHIT